ORA BEACH, SURGA YANG BISA DIDATANGI BERKALI-KALI…

 - by Indri Yuliani

me n kru

Bulan Juli kemarin, MTMA (My Trip My Adventure) program Trans tv yang aku pegang, berangkat shooting ke Maluku. Tujuan kami adalah Pulau Seram dan Ambon. Flight ke Indonesia timur memang jarang. Garuda, Batik, maupun Lion Air rata-rata cuma melayani dua kali penerbangan PP dalam sehari. Aku dan tim pilih penerbangan dini hari, karena rute pertama kami adalah ke Pulau Seram dulu, dan ada jadwal transportasi yang harus ditepati. Begini maksudnya….

Kami terbang sekitar pukul setengah dua dini hari. Penerbangan Jkt – Ambon memakan waktu sekitar 3.5 jam. Karena Ambon menggunakan Waktu Indonesia Timur, ada selisih waktu lebih dulu 2 jam dari Jakarta, maka kami tiba di Bandara Pattimura sekitar pukul 07.00 WIT. Antri ambil bagasi (karena peralatan shooting itu banyak, jadi bisa setengah jam sendiri ngantrinya), dan langsung ketemu driver utusan dari Ora Beach Resort. Perjalanan berlanjut ke Pelabuhan Tulehu, sekitar 50 menit dari bandara.

Sampai di pelabuhan, porter-porter langsung nyerbu ngikutin mobil. Nggak nyaman sih, kalau seperti itu sebenarnya. Tapi kamu bakal nemuin hal-hal seperti itu di beberapa pelabuhan Indonesia timur, misal di Sorong dan Waisai, Raja Ampat.

Pelabuhan Tulehu ini bukan pelabuhan feri, jadi hanya khusus untuk penumpang. Kapal yang digunakan untuk menyeberang ke Pulau Seram adalah kapal cepat. Sehari ada dua kali penyeberangan, jam 9 pagi dan jam 1 siang. That’s why kamu harus perhatiin jadwal penerbanganmu biar nggak ketinggalan kapal ini. Kami menggunakan kapal yang jam 9 pagi. Tiket untuk satu orang penumpang, kelas VIP adalah RP. 225.000,- per orang. Ruangan VIP itu kursi duduknya kaya di bis AKAP tapi deretannya sampe 6 kursi tiap sisi. Ada AC tapi nggak begitu kerasa. Ada toiletnya khusus dan TV besar buat karaokean atau nonton film yang diputar hehehehe…

Waktu itu cuaca lagi gak bagus, hujan, jadi gelombang besar di perjalanan terasa banget. Udah di ruang VIP aja masih ada yang mual dan muntah, apalagi kalau di luar. Tapi buat sebagian orang, katanya enakan di luar, soalnya kena udara laut langsung. Waduh, kalau aku malah bisa masuk angin!

Lama perjalanan dengan kapal cepat ini sekitar 2 jam. Akhirnya kami tiba di Pelabuhan Amahai, kota Masohi, Pulau Seram sekitar jam 11 siang. Di sana sudah ada lagi driver utusan dari pihak Ora Beach Resort yang menjemput kami, namanya Pak Muhaimin. Oiya, buat kalian yang tujuannya hanya ingin ke Pulau Seram saja, bisa pake mobil rental yang banyak terdapat di pelabuhan. Angkot juga ada, tapi pastinya hanya untuk jarak dekat. Lanjuuuuttt….

Sudah di pulau Seram, tapi belum sampai tempat yang dituju…hehe..

Perjalanan ke OBR (Ora Beach Resort) dilanjutkan dengan naik mobil; Pelabuhan Amahai – desa Sawai ditempuh selama kurang lebih 2 jam lagi. Tapi jalanan di Pulau Seram ini nampaknya baru, jadi masih mulus, lebar, dan nggak macet. Makanya banyak yang ngebut! Hehe… View kanan-kirinya indah, kok jadi nggak bosen juga. Tapi mendingan buat tidur sih, kalo aku…..lumayan :p

Menjelang sampai ke desa Sawai, ada bagian jalanan yang rusak, jadi mobil lebih pelan. Sampe di desa Sawai kita langsung berhenti di dermaganya. Oh em ji! Ternyata masih harus menyeberang lagi! Tapi kali ini nggak lama, cuma 7 menit aja, pake speedboat yang ada di dermaga itu. Karena kami sudah di arrange paketnya sama pihak OBR, jadi enak, nggak perlu tawar – menawar harga lagi. Buat gambaran, kalau OBR ngasih harga speedboat buat nyeberang itu 150rb/boat. OBR nya udah kelihatan dari dermaga desa, tapi kan ya nggak mungkin berenang nyeberangin laut….jadinya ya naik boat tujuh menit itu tadi :p.

Speed boat yang digunakan untuk menyeberang dari dermaga Desa Sawai ke Ora Beach Resort (PP)

Speed boat yang digunakan untuk menyeberang dari dermaga Desa Sawai ke Ora Beach Resort (PP)

Whoalaaaa….akhirnya sampai juga sampai di Ora Beach Resort! Waktu itu udah sekitar jam tiga sore. Perjalanan 5 jam dari bandara Pattimura segera terbayar demi ngelihat view yang kaya gini….

Ora Beach Resort, Pulau Seram, Maluku, Indonesia

Ora Beach Resort, Pulau Seram, Maluku, Indonesia

Dari jauh tadi, ngelihat deretan bangunan resort dengan latar bukit hijau dan hamparan laut biru aja udah keren banget. Pas sampe, tambah bikin bengong. Indonesia emang kaya, bro! Bisa laah bersaing sama Maldives! ;)

Deretan kamar di resort ini. Look at the water!

Deretan kamar di resort ini. Look at the water!

Kami menginap di kamar-kamar yang di atas laut, biar viewnya langsung laut lepas. Cuma ada 7 kamar yang kaya gini (Rp 700.000,-/kamar/malam). Ada satu rumah besar juga yang isinya 2 atau 3 kamar gitu. Kalau yang mau nginep di darat juga ada (Rp 500.000,-/kamar/malam).

kamar yang di darat (di pantainya) Ora Beach Resort

kamar yang di darat (di pantainya) Ora Beach Resort

Karena udah sore, ngantuk, capek…hari itu emang nggak dijadwalkan untuk shooting items. Jadi buat host dan kru yang mau istirahat silakan… yang mau menikmati sore juga silakan…

Ini view dari dalam kamar kami :

Teras kamar dan laut lepas menjelang senja...

Teras kamar dan laut lepas menjelang senja…

View belakang kamar... bisa buat berenang jugak!

View belakang kamar… bisa buat berenang jugak!

Di sini air lautnya bening, jadi koral dan ikan – ikan bisa kelihatan jelas….

ikan2

Karena lokasi ini jauh dari desa, makan hanya bisa memesan di resort. Paket makan per-orang waktu kami ke sana 150.000/hari. Itu udah makan 3x dan snack. Karena kemarin bulan puasa, jadi ada yang hanya makan dua kali sehari, tapi harga tetap hehe….

Restoran milik resort. Aku paling suka snack singkong dan pisang goreng + sambalnya ;)

Restoran milik resort. Aku paling suka snack singkong dan pisang goreng + sambalnya ;)

Kalau mau makan di sini juga boleh……

Hidup ini indah, ya brooo...hehe

Hidup ini indah, ya brooo…hehe

Nongkring cantik sebelum jalan shooting... :p

Nongkring cantik sebelum jalan shooting… :p

Buat yang mau ke Ora Beach Resort, bisa kontak : Pak Alvin 08111909404, beliau owner yg akan mengarahkan kita kalau mau menginap di sana. Nanti bakal dijelasin semua harga / paketnya (transportasi, kamar, cp yg harus dihubungi di sana, dll)

Next postingan aku certain keindahan lain di sekitar resort ini, yaaa.. See you!

Cerita Bulan Juli

 - by Indri Yuliani

Birthday cake surprise for me and Diana. Thankyou geeengss… :))

Tiap tahun beda-beda ‘perayaan’ ulang tahunnya. Thank God :)

Sebenernya nggak dirayain juga sih, tapi momen-momen yang terjadi di seputaran ulang tahun itu yang selalu membekas dan beda-beda. Kalau tahun lalu dilewati di Sumba, puasa hari pertama pula, maka tahun ini dilalui di Ambon, pas shooting MTMA juga :).

Beberapa hari lewat, pas masuk kantor lagi, dikasih kejutan sama Abel. Thank you, Belinda…..ini tumben banget aku gak ngeh apa-apa! hahaha… One of the best surprise ;p

Make a wish-nya selalu sama….minta sehat, hepi, dimudahkan segala urusan, dan ketemu jodoh yang baik. *ahaayy* :D

Thanks to my family, friends, mantan, and all untuk doa2 baiknya. Semoga Allah mengijabah, yaa…Amiin.

 

Happy birthday to all Cancer buddies ;)

MENJADI BROADCASTER (PART 2)

 - by Indri Yuliani
Shooting outdoor program MTMA di jalanan ibu kota.

Shooting outdoor program MTMA di jalanan ibu kota.

Judulnya agak ‘sombong’ ya? ada ‘part 2′ nya Hehehe… Tapi emang postingan ini dibikin karena postingan sebelumnya tentang Menjadi Broadcaster banyak banget yang komen sampe sekarang, setelah 2 tahun berlalu. Alhamdulillah.. makasih, yaaa :)

Awal-awal aku masih sempet balesin, tapi lama-lama maaf banget kalau banyak yang nggak dijawab. Somehow pertanyaannya juga sama sih; soal kampus, jurusan, bakat, dan gimana bisa kerja di tv . Jadi sebenarnya juga udah aku jawab di komen2 sebelumnya.

Jujur, kalau soal kampus broadcast, aku nggak tau yang bagus mana sekarang. Maklumlah udah lama nggak bersentuhan dengan dunia pendidikan hehe.. (ketahuan deh, alumni tua :p). Jadi untuk yang nanya seharusnya kuliah di mana, ayo jangan malas untuk browsing atau cari info. Kalian bisa tanya ke guru, teman lain, atau lihat penawaran2 kampus. Kalau ada alumni anak broadcast di kampus tsb yang kalian kenal, lebih bagus lagi, karena bisa ditanya2. Lihat juga alumni2 kampus tsb, pada jadi apa akhirnya. Apakah braodacster atau yang lainnya. Sesuai nggak sama harapan kalian. Kalau masih bingung juga, bismillah aja, pakai feeling milihnya :D. Toh, kalau kamunya pinter, aktif, dan emang berbakat, pasti akan ‘keluar’ sebagai calon broadcaster handal juga ;)

Soal Jurusan.

Kalau dulu di kampusku, Broadcasting itu udah jurusan. Nah, kalau ditanya lebih baik mana, jurusan PR atau Broadcasting? Advertising atau Broadcasting? Ekonomi atau Broadcasting? Ya pasti aku bilang Broadcasting, karena aku emang milih itu dan niat ambil ilmu itu, dulu. Jadi agak aneh kalau kalian nanya bagusan jurusan mana, kalau kalian maunya Broadcasting. Mantapkan hati dulu. Ukur kemampuan. Intip peluang. Bismillah… :D

Buat yang udah terlanjur kuliah di jurusan lain tapi kepengen jadi Broadcaster, ya nggak masalah. Seperti yang aku bilang, jadi Broadcaster itu bisa dari latar belakang pendidikan apa aja, asal kalian bunya bakat dan minat, jadi. Di kantorku (Transtv) nggak semuanya lulusan broadcasting kok. Banyak juga karya2 anak bukan broadcast yang bagus2 di luaran sana. Mereka mau belajar dan mampu mengeluarkan potensinya. Itu yang penting!

Nah, kalau soal bakat, kalian bisa mengasahnya. Biasanya ada ketertarikan dulu, misalnya senang mengamati acara2 tv, film, siaran ini itu…dengan begitu selera kalian akan berkembang. Pelajari yang bagus2 biar kualitas diri kalian juga bagus. Rajin baca, observasi, lihat2 behind the scene sebuah program/ film, lihat pameran foto, and let your imagination evolve…

Kreativitas itu bisa dipikirkan. Imajinasi itu tak terbatas. Kalian bisa punya dua-duanya kalau mau. Latihan dan terus latihan. Coba berpikir kreatif, latihan memikirkan ide-ide, melihat tiap hal dengan kreatif…hingga akhirnya bisa bikin sesuatu yang kreatif. Well, di dunia ini nggak ada kreativitas murni. Semuanya adalah pengembangan dari yang ada. Tangga nada itu cuma ada 7, lalu kenapa bisa ada jutaan lagu di dunia?

Caranya kerja di tv? Ya ngelamar doong hehe…

Dulu aku ikut BDP (Broadcast Development Program) di Transtv. Seleksi masuk untuk karyawan2 baru. Layaknya ngelamar kerja di tempat lain, ada beberapa tes yang harus dijalani sampai akhirnya diterima. Kuncinya : pede!

Kalau kalian ngelamar kerja, kalian harus pede kalau posisi / tempat itu cocok dan bagus untuk kalian dan kalian emang pantas/ mampu. Nggak harus sepenuhnya sudah menguasai bidang tersebut (namanya juga fresh graduate, kan..) tapi setidaknya kalian sudah punya ‘amunisi’ sedikit pengetahuan soal kerjaan dan tempat kerja yang kalian lamar tsb.

Oh, satu lagi…ini yang biasanya dilupakan sama pelamar kerja yang masih fresh graduate, yaitu soal penampilan. Sedikit banyak hal ini berpengaruh, loh. Kalian nggak harus tampan atau cantik dengan dandanan menor ala sosialita, yang penting harus disesuaikan dengan pekerjaan dan tempat yang kalian lamar. Coba lihat dan amati mereka yang udah pada kerja gimana penampilannya. Nggak harus mewah, tapi harus rapi, menarik, serasi, dan membuat kalian pede! Kalau harus sedikit mengeluarkan biaya untuk beli baju, nggak papa laah… beli satu stel baju + sepatu yang cucok, bisa buat lamar kerja kemana2. Jangan lupa, rambut rapih, nggak bau mulut dan bau badan yaaa.. ;) (ini kenapa gue jadi fashion stylist yak? Haha)

Last but not least, buat kalian yang mau masuk dunia kerja, buka mata dan telinga lebar2, mana yang sekiranya cocok buat kalian dan punya prospek bagus untuk kalian. Kenapa aku tekankan ‘untuk kalian’ ? Karena setiap orang punya kehidupan, jalan hidup, dan keberuntungan yang berbeda. Kamu harus bikin yang terbaik untuk hidupmu sendiri.

Di Indonesia, stasiun tv nasional ada 11. TV lokal banyak, tv jejaring juga ada. Sekarang tv kabel dengan siaran channel asing juga sudah banyak yang bisa kita nikmati. Kalian bisa juga jadi broadcaster di luar negeri. Atau jadi pengusaha di bidang broadcast?! ;)

Persaingan industri tv akan selalu ketat. Content tv akan selalu jadi senjata jualannya. Makanya dibutuhkan orang2 yang kreatif dan mampu secara teknis untuk bikin program2 yang bagus, soalnya pemirsa makin lama makin pinter dan pilihan juga banyak. Mereka bebas memilih yang mereka sukai. Yang harus kalian sadari, media tv ini juga industri. Mereka hidup dari iklan. Ribuan orang di dalamnya hidup dari hasil pendapatan iklan tv mereka. Sometimes, you have to left your idealism karena ada yang harus didahulukan. Tapi percaya deh, sepanjang tidak melanggar HAM, tidak merusak hati nurani kalian dan tidak menyekutukan Tuhan, kebijakan2 dalam industri tv itu masih bisa kalian ikuti. You have to open minded. Kalau nggak sanggup, lambaikan tangan ke kamera dan cari pekerjaan lain yang kalian suka. Itu lebih baik, karena hidup cuma sekali, jangan dibikin susah dan tertekan ;)

Kalau ngomongin soal bagian2 pekerjaan di stasiun tv, ada banyak banget, sih. Di Transtv antara lain ada Divisi Produksi, Divisi News, Divisi Fasilities dan Operasional, Human Resources, Divisi Marketing & Sales, dll. Nanti di tiap divisi itu ada bagian2 lagi, misalnya Cameraman, Audioman, Lightingman, Editor, Designer Graphic, Art Director, Set Designer, Builder, Property, Wardrobe, Make up, Library, MCR, Director, Producer, Creative, Production Assistant, Unit Production Manager, Sponsorship, Unit Talent, Floor Director, Legal, Finance, Marketing, Account Executive, Procurement, General Services, dll. Jadi ada banyaaaaak banget bagian ‘yang tak terlihat’ di layar kaca anda pemirsa :D. Soooo, nggak perlu khawatir kalian kuliah di jurusan apa, yang penting kalian expert dalam suatu bidang yang kalian senangi, kalian bisa coba kerja di tv kalau mau. Tapi kalau bener2 pengennya jadi broadcaster, maka punya disiplin ilmu broadcasting dan bekerja di dunia broadcast pada bagian pekerjaan yang berhubungan langsung dengan broadcast (misal jadi cameraman atau creative) memang ideal banget. Pilihan ada di tangan kalian ;)

Hmmm….ada yang masih dipertanyakan, adik-adik? Hehe.. Lain kali disambung lagi, yaa. Makasih sudah menyimak :D

http://indriyuliani.com/menjadi-broadcaster/

JANGAN DATANG KE SEMPU!

 - by Indri Yuliani

Sekitar bulan Februari 2014, Program My Trip My Adventure menayangkan episode Pulau Sempu. Whoalaaa…sudah diduga, akan banyak kontroversi karena kami mencoba memberitahukan ‘yang sebenarnya’.

Pulau Sempu itu adalah kawasan cagar alam di selatan Malang, Jawa Timur. Sudah banyak orang bercerita tentang keindahan dan sulitnya jalur ke sana. Ketika akhirnya kami (aku dan tim MTMA) mau ke sana, seorang teman sudah mengingatkan; “Jangan promosiin Sempu, karena itu cagar alam yang harus dilindungi. Hati2 nampilinnya, yaa…” Siaaap! Jawabku saat itu.

Seperti halnya taman nasional, untuk shooting di kawasan konservasi seperti cagar alam, kita harus mendapat ijin resmi dari BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) dan mendapat SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi). Ada biaya tertentu yang harus dibayarkan juga, antara 1.5 – 2 juta rupiah. Fyi, taman nasional atau cagar alam itu ada bagian-bagian yang diperuntukkan untuk wisata, ada juga yang tidak. Taman Nasional Gunung Tengger misalnya, itu areal Bromonya adalah untuk wisata. Nah, kalau Sempu ini ternyata enggak. Makanya ketika kami coba mendapatkan ijin, agak rumit. Awalnya kami tidak mendapatkan ijin. Setelah dijelaskan sudut pandang yang akan kami ambil, bahwa ini bukan aktivitas wisata semata, mereka baru setuju. Itupun mereka wanti-wanti sekali agar kami komit dengan kesepakatan tsb, bahwa kami harus menginformasikan kalau SEMPU BUKAN TEMPAT TUJUAN WISATA. Kami juga harus menginformasikan fungsi keberadaan cagar alam ini yang sebenarnya, yaitu untuk konservasi, pendidikan, dan penelitian. Tidak diperbolehkan ada aktivitas yang merusak alam. Nama baik institusi tempatku bekerja jadi taruhannya!

Makanya biar nggak ‘salah’ langkah, kami menyertakan petugas dari BKSDA yang di lokasi untuk memandu kami. Setidaknya mereka melihat langsung bagaimana aktivitas kami dan bisa menegor kalau ada yang menyimpang. Tapiiii…… (disimpan dulu ceritanya hehe).

***

Untuk mencapai Pulau Sempu, dari kota Malang kita ke arah Sendangbiru. Waktu tempuh sekitar 1.5 jam. Dari situ nyeberang naik perahu mesin sekitar 10 menit ke Teluk Semut. Sampe deh, di Pulau Sempu. Untuk sampai ke pantai Segara Anak, kita harus jalan kaki menembus hutan sekitar 2 jam! Treknya berlumpur, licin dan naik turun. Karena sembari shooting, menginformasikan soal hutan, habitat, keadaan, dll kami agak lama perjalanannya, sekitar 2.5 jam aja sodaraaa….

Dan ini lah ‘penampakan’ Segara Anak di Pulau Sempu yang emang indah banget dan bikin penasaran siapapun. Surga tersembunyi di ujung hutan, persis gambaran di film The Beach yang dimainkan Leonardo Dicaprio. Indonesia punya ini, bung!

Segara Anak ini adalah air laut yang 'terkepung' sehingga membentuk semacam laguna. Sekelilingnya adalah bukit karang, hutan, dan pantai pasir putih.

Segara Anak ini adalah air laut yang ‘terkepung’ sehingga membentuk semacam laguna. Sekelilingnya adalah bukit karang, hutan, dan pantai pasir putih.

 Masa kalian tega, tempat seindah ini ‘hancur’ dan jadi gak indah lagi? Enggak kan? Itulah kenapa sekarang pengunjung ke cagar alam ini dibatasi dan hanya untuk keperluan2 tertentu saja yang aku sebutin di atas. Tapi sayangnya, nggak semua orang tahu, sadar, dan mengerti hal itu…

Kami bertemu dengan rombongan anak2 muda yang berwisata ke sini. Yes, they do vacation. Bahkan ada yang bangun tenda :(. Kami juga nemuin sampah2 sisa botol minuman di hutan maupun di pantai. Sebisa mungkin kami pungut dan bawa pulang. Bahkan Hamish (host MTMA) juga  bayar orang untuk pungutin sampah2 di pantai dan dibawa pulang (keluar pulau). Soal kebersihan dan tidak nyampah aja masih susah dilakukan oleh orang2 kita, gimana Sempu mau lestari? Aku jadi sangat mahfum dengan kekhawatiran pihak Kementrian Kehutanan dalam hal ini yang sangat berhati2 dengan liputan media. Mereka takut, liputan keindahan Sempu malah membuat orang berduyun2 datang. Ini seperti makan buah simalakama. Di satu sisi kita harus memberikan informasi yang benar dan jelas tentang Pulau ini dan eksistensinya untuk apa, di sisi lain orang akan mencerna salah dan malah berdatangan. Ini juga yang terjadi ketika episode Sempu tayang di MTMA, banyak yang protes, mereka bilang kami seperti pencopet yang teriak jangan mencopet. No, we don’t.

***

Pernah baca dong soal peringatan bahaya merokok di bungkus rokok? Mulai awal tahun ini malah peringatannya lebih singkat dan to the point ‘MEROKOK MEMBUNUHMU’. Rokok tetap diproduksi, dijual, dikonsumsi. Iklan rokok di tv itu bagus2 dan menggoda imajinasi sekali… Gambaran cowok tampan, kesuksesan, profesionalisme, tantangan di alam, dll. Apakah produsen rokok dan pembuat iklan rokok termasuk golongan ‘pencopet yang teriak jangan mencopet’?

Baru gambar kiri atas yang terpampang di bungkus dan iklan2 rokok.

Baru gambar kiri atas yang terpampang di bungkus dan iklan2 rokok.

Pernah dengar juga kan soal kampanye kondom di kampus-kampus? Yang mengecam banyaaak banget. Yang bilang kalau hal itu bikin anak-anak muda malah pengen mencoba sex bebas juga banyak. Yang ‘terhindar’ dari HIV atau penyakit kelamin, jadi banyak nggak? Apakah orang-orang yang mengkampanyekan penggunaan kondom itu juga termasuk ‘pencopet yang teriak jangan mencopet’? Mereka pasti nggak asbun alias asal bunyi ketika mengkampanyekannya. Mereka nggak bodoh dengan sekedar bagi2 kondom. Mereka juga pasti menjelaskan bahaya sex bebas dan menghimbau jangan melakukan sex bebas.

Satu lagi, aku pernah nonton satu acara di Natgeo yang membahas soal peredaran heroin di salah satu negara di benua Amerika. Salah satu pecandu yang bercerita di tayangan itu bahkan menceritakan bagaimana ia mulai remaja sudah kecanduan dan nggak bisa berhenti sampai ia tua sekarang. Yang dilakukan pemerintah sana adalah menyediakan semacam rumah untuk para pecandu yang sakaw agar bisa mendapatkan narkotika secara gratis dengan peralatan dan tempat yang higienis. Jadi, tiap hari, para pecandu itu boleh datang ke rumah itu, menyebutkan obat yang biasa mereka pakai dan dosisnya. Lalu petugas menyiapkan, dan si pecandu memakainya di ruangan2 kecil yang sudah disediakan. What the hell is it?! Ngapain dibikin tempat kaya gitu??? Barang dan perbuatan ilegal kok difasilitasi! Pencopet yang teriak jangan nyopet, kauuu!! :p

Jadi, ternyata tujuan pemerintah adalah untuk mengurangi jumlah penderita HIV dan penyakit2 berbahaya lainnya akibat pertukaran jarum suntik diantara pecandu atau penggunaan jarum suntik yang tidak higienis. Lokasi2 kotor, seperti sudut2 jalan atau gudang kosong, yang sering digunakan para pecandu menyuntik, juga berpotensi menyebabkan terjangkitnya penyakit2 berbahaya. Angka kematian tinggi karena hal ini. Makanya pemerintah membuat ‘rumah pecandu’ itu tadi. Simalakama kan? Gue yakin kalau ini di Indonesia, yang mengecam banyak banget.

Well, terserah ini mau dibilang pembelaan atau apa. Buatku, memang selalu ada resiko atas pekerjaan yang kita lakukan. Yang terpenting kita udah harus tau dan yakin kalau yang kita lakukan itu sudah pada jalur yang semestinya. We can’t please everyone. Kita nggak bisa memuaskan semua orang. Setiap orang juga punya tingkat kecerdasan dan pandangan yang berbeda-beda akan suatu hal. The point is…jangan cuma melihat dari satu sudut pandang saja jika sudah menyangkut banyak hal/orang.

Gue yakin kalian yang baca ini cerdas2. Mudah2an nggak ada lagi agen tour yang bikin paket wisata ke Sempu. Mudah2an BKSDA di Sendangbiru lebih ketat dan tegas pada para pengunjung yang ingin ke Sempu.

Be wise, people!

bigsmilezeroteeth – bigsmilenoteeth

 - by Indri Yuliani

Thats Jason Godfrey’s account for instagram and twitter. I just follow him. Siapa yang gak gemes cobaaaak….udah cakep, seneng adventure, suka nulis, bisa masak (at least di program tv), bisa nge-host, funny, usia matang dan single pulak! hohoho… *kedip2*.

Oiya, kalau mau tau kenapa dia pake nama2 akun seperti judul postingan ini, coba lihat di tumblr nya. Alasan dia sangat masuk akal, cerdas dan lucu!hihi.. Btw, cowok yang suka nge-blog itu super awesome, right?!;p

Jason Godfrey

Jason Godfrey

Mirippphh

 - by Indri Yuliani
Gunawan + Zumi Zola = Jason Godfrey *LOL*

Gunawan + Zumi Zola = Jason Godfrey *LOL*

Haha…ini lucu. Si cowok ganteng gak ketulungan itu namanya Jason Godfrey. Blasteran Canada-Philiphine. Who is he? Googling dong aaaah! Pokoknya lagi seneng ngeliat2 ini cowok. Dan pas dilihat2, kok kayanya dia itu perpaduan antara Gunawan & Zumi Zola. Atau biar sedikit manis, tambahin Fedi Nuril juga bisa! Hahahahaa…. *justkidding*

 

Well, kalau kamu kenal cowok Indonesia seganteng Jason, dan bisa doing everything kaya Jason, kasih tau aku yaaa…mau aku lamar! Hiyaaaa….hahahaaa ;p

 

 

Sore-sore di Kantorku

 - by Indri Yuliani
agak-agak berantakan, yeee! haha..

agak-agak berantakan, yeee! haha..

Hiii! Mau tau suasana sore di lantai 8 kantorku? Kalau gak mau tau, ya gak usah dilihat hehe…

 

 

MY FIRST BOOK

 - by Indri Yuliani

29 Juni 2012, Grand Indonesia

Itu adalah kali pertama aku ketemu sama Penerbit Mizan. Rasanya susah digambarkan… Antara grogi, happy, dan excited! :D. Ada mba Dhias dan mas Peter yang sudah lebih awal aku ‘kenal’ lewat twitter. Obrolannya santai ternyata. Mbak dan mas dari Penerbit Mizan baik2 semua hehe… Inti pertemuan itu adalah penjelasan apa yang harus aku lakukan sebagai penulis 2 di buku yang akan aku bikin bersama Tjokde, sekaligus ngasih draft kontrak kerjasama ;)

***

My first book with Tjokde :')

My first book with Tjokde :’)

Menulis buku itu impianku sejak lama. Well, I love writing… makanya sampe punya beberapa blog untuk menyalurkan hobiku yang satu itu. Allah memang Maha Baik, meskipun harus melewati ‘jalan panjang’,  pada akhirnya mimpi itu terwujud dan diberi kemudahan saat mewujudkannya. Seperti yang pernah kubilang, semesta mencatat mimpimu :)

Kalau dirunut, ceritanya panjang… :)

Ini nggak bisa lepas dari program Nature Life yang kupegang. Nggak bisa lepas juga dari keyakinan jeng Christin yang mempercayakan pembuatan program itu padaku, hingga aku kenal Tjokde. Lalu Tjokde ditawari bikin buku, dan mengajakku terlibat dalam penulisannya.

***

 Benar seribu persen kalau ada yang bilang, menulis itu butuh mood dan fokus. Aku lupa tepatnya, tapi kira-kira sekitar empat bulan aku berusaha fokus total nulis buku itu. Hari Sabtu-Minggu dan hari libur sengaja nggak pernah kemana-mana biar bisa nulis. Apalagi materi yang kutulis bukan hal yang sepele, melainkan hal serius karena menyangkut kesehatan dan nyawa orang. Belum lagi tektokan sama Tjokde yang tiap hari sibuk dengan pasien2nya di Bali, juga takes time. Kadang, mood nulisku lagi bagus, Tjokde pas nggak ngasih bahan untuk kutulis. Kadang, kerjaanku lagi banyak, Tjokde dengan lancar ngasih bahan dan tulisan yang harus kususun, hingga jadinya malah numpuk pe er ku. Tantangan terbesarnya ya, memang jarak itu tadi. Jadi tektokan cuma by email, sms, bbm, atau telepon. Kadang nggak bisa langsung dapat jawaban kalau ada hal yang perlu aku konfirmasi ulang ke Tjokde. Harus nunggu beberapa jam, bahkan hari. Tapi kadang juga cepet. Yaaa..gitu deh! Hehe..

Di awal penulisan, untungnya Tjokde pas ada jadwal ke Jakarta, jadi aku bisa langsung menyusun banyak pertanyaan untuk dia jawab, sebagai bahan tulisan. Biasanya kami memilih kedai kopi untuk diskusi dan menyusun materi tulisan. Biar kaya penulis2 yang keren itu laaah… maennya di kedai kopi! Hehehe…

Tjokde merekam penjelasannya soal penyakit di ipodku :)

Tjokde merekam penjelasannya soal penyakit di ipodku :)

'Rekaman' lagi di PS :)

‘Rekaman’ lagi di PS :)

Jawaban2 Tjokde aku rekam di BB atau ipod, trus nanti di rumah aku susun. Gampang sih, yang susah itu kalau Tjokde coba menuangkan pemikirannya dengan bahasa Indonesia tapi susunannya salah dan punya arti beda dari yang dimaksud. Jadi aku harus benar2 mencernanya dengan baik, trus re-check ke dia :p

Sudah tidak tahap 'merekam' lagi.. :) - Bali

Sudah tidak tahap ‘merekam’ lagi.. :) – Bali

Sempat juga ketika aku ada shooting ke Bali, Tjokde mampir ketemuan untuk membahas beberapa hal dalam (materi) buku kami. Pokoknya kesempatan apapun yang bisa digunakan untuk nyelesein buku, hajarrr!! :D

Last meeting, sebelum tulisan diserahkan ke penerbit - Anomali lagiii ;)

Last meeting, sebelum tulisan diserahkan ke penerbit – Anomali lagiii ;)

***

Hal-hal inti untuk buku sudah tersusun, tinggal mencari printilannya, seperti foto (mostly dari aku, hasil jeprat-jepret kalo lagi shooting hehe), sumber-sumber data pelengkap, dll. Hingga akhirnya di bulan Januari akhir atau Februari awal, materi buku kami serahkan ke penerbit (editor, namanya mba Dhias). Mulai dari situ, tektokan terjadi antara editor buku dan kami (aku & Tjokde). Ada beberapa hal yang harus dibetulkan, dikurangi, atau ditambahi. Mba Dhias akan email hal-hal yang dimaksud, dan kami pun membalasnya lewat email. Dan itu nggak secepat/semudah yang dibayangkan, karena balik lagi ke soal jarak dan waktu… Kadang mba Dhias nanya hari Senin, aku dan Tjokde baru sempat cek hari Rabu, trus ngasih jawaban Senin di minggu berikutnya…hehe… Jadi, ya agak lama. Maapkeun kami, mba Dhias… ;)

Soal foto juga begitu, ada yang masih kurang dan aku butuh waktu untuk ngelengkapinnya. Sampai akhirnya di bulan Oktober 2013, buku itu terbit :). Butuh waktu satu tahun tiga bulan, hingga akhirnya buku ‘Sehat Holistik Secara Alami’ ada di rak-rak toko buku kesayangan pemirsa… :’)

***

Kalau bicara tantangan, yang paling berat sebenarnya membuat materi ‘berat’ jadi terasa ringan dan mudah dipahami dalam bentuk tulisan. Isu kesehatan itu serius dan ‘berat’, ditambah judul buku yang kesannya seriuuuusss banget. But, believe me, isi bukunya cerna-able kok ;) Kalau sampe ada yang susah mencerna isi buku, berarti aku gagal sebagai penulis 2, soalnya itu tugasku; mempermudah penjelasan Tjokde dalam bahasa/kalimat yang menarik dan tidak membosankan ke buku.

***

Yang paling aku suka dari buku ini adalah adanya penjelasan logis berurutan yang coba dihadirkan untuk membahas suatu penyakit atau pengobatan. Misalnya begini, kalau kita pusing tujuh keliling (vertigo) atau pusingnya di bagian depan dan atas kepala, artinya fungsi ginjal kita terganggu. Kenapa ginjal bisa terganggu? Apa akibatnya kalau fungsi ginjal terganggu? Itu ada penjelasannya. Fungsi ginjal yg terganggu bisa bikin aliran darah ke otak tidak lancar. Yang bikin tidak lancar bisa karena kita kurang cairan. Nah, apa yang bisa melancarkannya? Pastilah bahan2 yang punya kemampuan menstimulasi aliran darah ke otak. Lalu ada ramuan herbal yang dicontohkan dan juga obat homeopathy yang disarankan. Di bagian lain buku, ada juga informasi soal organ tubuh (termasuk ginjal), cara kerja dan fungsinya, serta makanan2 apa yang ‘baik’ untuk organ tsb. Jadi kalau kita udah tau sakitnya di bagian mana, penyebab sakitnya apa, akan dengan mudah menelusuri obatnya. Kalau masih bingung dan ragu, sebaiknya konsultasi sama ahlinya ;)

Buku ini juga mengenalkan hal baru, menurutku, yaitu tentang Homeopathy. Jujur, istilah itu aja baru aku tau saat mau bikin program Nature Life. Padahal pengobatan ini populer sekali di barat sana sampai sekarang. Setidaknya, ini jadi pengetahuan baru buat kita dan tambahan info untuk mereka yang sedang mencari pengobatan alternatif untuk penyakitnya. Jangan menyerah, brooo! :)

Pada intinya, buku ini ngajak kita untuk hidup sehat; sehat makanannya, gaya hidupnya, dan lingkungannya. Buku ini ngasih ‘kepercayaan diri’ penuh pada kita untuk ‘mengobati diri sendiri’ karena sebenarnya kita bisa!

***

Inilah ‘jawaban’ dari penolakan2ku saat itu, kalau diajak hengot sabtu-minggu sama temen2. Maafkan yaaa… J. Emang cuma beberapa orang yang tahu kalau aku (dan Tjokde) sedang menulis buku, saat itu. Sengaja sih, biar jadi surprise, sekaligus menghindari pertanyaan2 dan ketakutan2 kalau2 ada halangan di tengah jalan saat penulisan. Tapi Alhamdulillah semua lancar dan akhirnya bisa terbit :).

***

Nggak ada hal muluk yang aku harapkan selain buku ini bisa bermanfaat buat yang membacanya. Nggak ada hal yang lebih membanggakan selain melihat namaku akhirnya tercantum di salah satu buku, di antara buku2 lain dalam rak toko buku :). Meskipun bukan buku sendiri(an), tapi aku hepi sekali… ini jalan yang dikasih Allah, biar aku kenal penerbit, tau gimana rule menulis buku dan diterbitin, tau apa2 yang harus disiapkan dan dilakukan saat menulis buku… pokoknya jadi pengalaman luar biasa lah. Priceless!! :)

***

Pada akhirnya, aku cuma bisa bilang Alhamdulillah, terimakasih nggak putus2 sama Allah dan semua orang yang selalu ngasih suport positif buatku mewujudkan setiap mimpi, termasuk menulis buku. Hey, I make it happen! ;)